Memahami Al-Quran adalah kewajiban
setiap muslim, karena ia adalah perintah Allah bagi hamba-Nya, dan
risalah-Nya yang dikirim kepada mereka melalui utusan-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Barang siapa tidak membaca dan tidak memahami Al-Qur’an, berarti ia
telah merendahkan risalah Allah dan sekaligus merendahkan siapa yang
mengirimnya serta siapa yang diutus untuk membawanya. Sepatutnyalah risalah itu dia baca
dengan penuh pengagungan dan penghormatan, serta mendengarkan bacaannya
dengan penuh ketenangan, penghargaan dan perhatian.
إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
“Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam {19} ; 58).
Kita berkewajiban mengetahui dari Al-Quran siapa yang menciptakan kita, untuk apa Dia menciptakan kita, dan bagaimana kita beribadah kepada-Nya. Kita juga wajib memahami nash setiap perintah, setiap larangan, setiap hikmah dan pelajaran. Hendaknya hati kita mendengarkan apa yang difirmankan Allah, sehingga ia tunduk kepada pembicaraan-Nya. Jika tidak, maka tidak ada artinya memeluk Islam secara kebetulan, beribadah karena bertaqlid, beriman tanpa pengetahuan, dan tunduk secara buta. Tidak ada buahnya bekerja secara mekanis, Islam secara keturunan dan beriman dengan prasangka.
Sungguh aneh, jika seorang muslim
berpaling dari perbendaharaan hikmah dan rahmat, sehingga ia berpaling
dari kebaikannya, padahal ia sudah berada di tangannya?! Apakah tidak
aneh jika dia mempelajari dan menghapal buku-buku besar untuk memperoleh
diploma, sedangkan ia tidak memahami dan mengkaji kitab Tuhan Yang Maha
Esa agar memperoleh kebahagiaan yang paling besar? Manakah diantara
keduanya yang lebih penting dan lebih bermanfaat? Jika kita duduk
membaca Al-Quran seperti kita duduk setiap hari untuk membaca surat
kabar pagi, tentu kita akan memahami agama kita, serta memperoleh
kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Apakah mengetahui berbagai
peristiwa manusia dewasa ini lebih penting bagi kita dibanding peristiwa
yang akan kita jumpai di hari akhir ? Apakah berita tentang umat umat
lebih penting bagi kita dari pada berita tentang diri kita sendiri? Jika
kita memperhatikan kemaslahatan duniawi orang lain, maka lebih utama
bagi kita memperhatikan kemaslahatan kita pribadi. Jika kita membaca
surat kabar setiap hari untuk mengetahui berita-berita manusia, maka
bacalah setiap hari sebagian dari ayat-ayat Al-Quran, lalu bahaslah
tafsirannya untuk mengetahui kewajiban-kewajiban kita.
Aneh, jika kita melihat tingkah-laku
sebagian kaum muslimin, yakni orang-orang yang mengaku kaum intelek,
kaum terpelajar dan moderen, mereka sangat mencurahkan perhatiannya
untuk mempelajari berbagai macam buku dan karya manusia, dan mengabaikan
Al-Quran, petunjuk dan tuntunan untuk keselamatan mereka. Tidak pernah
terbetik didalam hati mereka, bahwa mereka mempunyai bahasan yang wajib
mereka baca dan fahami, agama yang wajib mereka pelajari dan ikuti,
serta sejarah yang wajib mereka ketahui.
Jika mereka diberi nasehat agar memahami
kitab Tuhannya, mereka mengatakan tidak mempunyai waktu dan kesabaran
untuk itu. Padahal disisi lain mereka mempunyai banyak waktu dan
kesabaran untuk tekun mengerjakan kesenangan harian, serta memelihara
tradisi-tradisi sosial seperti kunjungan, beramah tamah, perkumpulan,
olah raga, ngobrol dan bersenda gurau. Semua ini, menurut mereka, lebih
penting dan lebih mengasyikkan dibanding mengkaji agama dan memahami
Al-Quran, karena semua itu memberikan kesenangan kepada akal mereka yang
picik, sedangkan Al-Quran membukakan kesalahan mereka dan mengingatkan
mereka akan dosa yang banyak. Karena itu mereka lari dan menjauhi
Al-Quran. Jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mereka
mendengarkannya dengan rasa tidak senang dan gelisah, dan jika orang
mukmin menyeru mereka ke jalan Allah, mereka mentertawakan dan
memperolokkannya.
مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ
“Tidak datang kepada mereka suatu
ayat Al Qur'an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan
mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main” (QS. Al-Anbiyak {21} ; 2)
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى
رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang
beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya
bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka
bertawakkal” (QS. Al-Anfal {8} ; 2)
فَمَنْ
يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ
يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا
يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ
“Barangsiapa yang Allah menghendaki
akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya
untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah
kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit,
seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. ” (QS. Al-An’am {6} ; 125)
قُلْ
هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
فِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ
مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
“Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah
petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang
tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur'an itu
suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang
yang dipanggil dari tempat yang jauh". (QS. Fushshilat {41} ; 44).
Allah menggambarkan hati orang-orang
yang tidak tersentuh oleh (tidak tunduk kepada) ayat-ayat Allah, serta
tidak berusaha untuk mengingat-Nya, bahwa ia adalah hati yang mati dan
lebih keras dibanding batu. Allah menggambarkan dengan firmannya :
لَوْ
أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا
مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al
Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk
terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan
perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka
berfikir.” (QS. Al-Hasyr {59} ; 21).
Kecelakaan adalah bagi orang yang
menjauhi cahaya yang memberinya petunjuk dan bimbingan, serta
melenyapkan dan menghancurkan kegelapan kebodohan dari hatinya, namun
dia tidak waspada terhadap apa yang membuatnya sengsara dan tidak ingin
meraih apa yang membuatnya bahagia, karena mata hatinya sudah tertutup
dengan kegelapan, sehingga tidak dapat membedakan antara yang halal
dengan yang haram, lalu terjerumus ke jurang yang penuh dosa.
Jauh dari Al-Qur’an berarti jauh dari
Allah, jauh dari Allah berarti jauh dari kebenaran, dan jauh dari
kebenaran berarti kesesatan, sedangkan kesesatan berarti kebinasaan.
Allah berfirman :
كَذَلِكَ
نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ ءَاتَيْنَاكَ
مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا(99) مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وِزْرًا(100)
“Demikianlah Kami kisahkan kepadamu
(Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah
Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur'an).
Barangsiapa berpaling daripada Al Qur'an maka sesungguhnya ia akan
memikul dosa yang besar di hari kiamat,” (QS. Thaha {20} : 99-100)
قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ
“Sesungguhnya telah datang
dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat
(kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan
barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya
kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara
(mu).” (QS. Al-An’am {6} ; 104).
Orang yang meninggalkan Al-Qur’an sama
halnya dengan orang yang kafir kepadanya, karena dia tidak menerapkan
perintah-perintahnya didalam segala tindakannya, tidak bersandar kepada
syariatnya, tidak pula menerangi diri dengan ayat-ayatnya.
Perhatikanlah orang yang mencampakkan
Al-Qur’an dari hatinya, sebagaimana ia menjadi musuh dirinya sendiri,
menjadi bencana bagi keluarga dan negerinya, dan bagaimana ia membiarkan
dirinya dipimpin oleh hawa nafsunya, sehingga dia terjerat oleh
syahwat.
Betapa harusnya kaum muslimin mengkaji
Al-Quran sebagaimana mereka mempelajari urusan rumah, perdagangan dan
ladang mereka. Betapa mereka sangat memerlukan sinar Al-Quran guna
menyembuhkan berbagai penyakit hati dan membunuh kuman-kuman penyakit
mereka. Betapa sengsaranya orang yang lengah akan penyakitnya,
meninggalkan obatnya, dan tidak berusaha untuk menyembuhkannya, sehingga
tetap sengsara.
Allah memberitahukan bahwa orang yang
meninggalkan Al-Qur`an akan menyesal di hari kiamat kelak, karena dia
telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri, tunduk kepada selain
Allah, dan berpaling dari Rasul serta kitab-Nya. Pemberitahuan ini
diungkapkan didalam firman-Nya :
وَيَوْمَ
يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ
مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا(27) يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ
فُلَانًا خَلِيلًا(28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ
جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu)
orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai
kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul." Kecelakaan
besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman
akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika
Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau
menolong manusia.” (QS. Al-Furqan {25} ; 27-29)
Kita juga berinteraksi dengan baik
terhadap Al-Qur’an dengan mengikuti petunjuknya serta mengerjakan
ajarannya. Dan, memutuskan suatu hukum dengan syariatnya serta mengajak
manusia mengikuti petunjuknya. Ia adalah metode bagi kehidupan individu,
undang-undang bagi aturan politik, serta petunjuk dalam berdakwah
kepada Allah Ta’ala.
Sayangnya, di zaman kita sekarang ini,
banyak kaum muslimin yang hanya sekedar menghafal huruf-hurufnya, namun
tidak memperhatikan ajaran-ajarannya, mereka tidak berusaha untuk
mempelajari kandungan isinya. Mereka tidak mampu berinteraksi secara
benar dengannya, tidak memprioritaskan apa yang menjadi prioritas
Al-Qur’an, tidak menganggap besar apa yang dinilai besar oleh Al-Qur’an,
serta tidak menganggap kecil apa yang dinilai kecil oleh Al-Qur’an.
Diantara mereka, ada yang beriman hanya dengan melaksanakan sebagian
isinya, namun kafir dengan sebagian lainnya, seperti yang dilakukan oleh
bani Israil terhadap kitab suci mereka. Begitu pula kaum muslimin di
zaman kita ini, mereka tidak mampu berinteraksi secara baik dengan
Al-Qur’an, seperti yang dikehendaki Allah. Meskipun mereka mengambil
berkah dengan membawanya serta menghias dinding-dinding rumah mereka
dengan ayat-ayat Al-Qur’an, namun mereka lupa bahwa keberkahan itu akan
didapati, apabila mereka mengikuti dan menjalankan hukum-hukumnya. Hal
ini sebagaimana difirmankan oleh Allah :
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS. Al-An’am {6} : 155)
Dan tidak ada jalan untuk membangkit
umat dari kelemahan, keterbelakangan, dan keterpecah-belahan mereka,
selain dari kembali kepada Al-Qur’an ini. Dengan menjadikannya sebagai
dalil yang memberi petunjuk dan imam yang diikuti. Dan cukuplah
Al-Qur’an sebagai petunjuk :
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا(122)
“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (QS. An-Nisak {4} ; 122)


0 komentar:
Posting Komentar